essay
Ikhtiar Santri Menjawab
Tantangan Globalisasi
Santri adalah
seorang yang menimba ilmu di lingkup pesantren, seorang Santri juga sebagai
penerang bagi Bangsa, karena dinilai dialah yang sudah menggenggam pelajaran
agama. Sangat mustahil bila seorang santri yang
berpedoman dari kitab-kitab syalafiyah pesantren jika bersikap
bertentangan dengan agama, walaupun
kehidupanya di pesantren sangat liar dan nakal, seperti keluar pondok tanpa
ijin, mencuri pakaian, melanggar
peraturan pondok. Tetapi walaupun ia nakal suatu saat akan berubah, karena
pengasuh pondok tak henti-hentinya mendo’akanya di setiap langkah santri
tersebut.
Di era
Globalisasi seperti ini, kita sebagai santri selalu waspada dengan kemajuan itu. Memang majunya suatu bangsa
juga disertai oleh Globalisasi. Adapun pengertian Globalisasi adalah integritas
internasional karena adanya suatu pandangan dari segi budaya, alat-alat
canggih. Penyebaran Globalisasi sangat pesat, karena adanya alat-alat canggih
seperti telefon, televisi, majalah Dll. Memang tanpa disadari kita sudah diu
berdayai oleh budaya-budaya yang sangat bertentangan. Coba kita lihat pada hari
valetine banyak sepasang kekasih member kado kepada pasanganya berupa coklat
dan disertai tulisan yang sangat alay dibalutan coklat tersebut. Dan juga gaya
rambut layaknya seekor kuda. Itelinga yang indah nan cantik dirusak oleh tidikan yang sangat
besar. Tahukah enkau wahai manusia, bahwa kita ini adalah seorang hamba
Rosulullah S.A.W? yang notabenenya harus menaati peraturan agama dan menjauhi laranganya?
Kalau kita bersikap sedemikian rupa, apakah kita sudah menjauhi laranganya?
Kita sebagai
santri juga harus selektif terhadap kemajuan tersebut, kemajuan pasti ada yang
negative dan positif. Apalagi kita terlahir menjadi seorang santri yang Ahlusunah
waljamaah. Baiklah walaupun kita sudah terperdaya oleh budaya yang sedemikian
rupa, di hari berikutnya marilah kita buka lembaran baru. Rosulullah juga
bersabda ” barang siapa yang mengikuti budaya suatu kaum, berarti mereka
termasuk kaum tersebut.“ dari sabda sang baginda, seperti sebuah pukulan yang
sangat dahsyat bagi kaumnya yang sudah terperdaya dan mengikutinya. Sabda
tersebut juga kita tempelkan didalam sanubari kita supaya tidak terjadi
kesalahan untuk mengikutinya. Gadget pun harus
tesedia aplikasi-aplikasi yang islami seperti al qur an, dzikir, jadwal
sholat, untuk mengantisipasi dan selau mengingat allah dzat yang member
kehidupan dan nikmat yang tiada duanya. Ini juga termasuk jihat santri melawan
kemajuan dunia yang bertentangan. Marilah kita menghitung dosa, supaya kita kembali ke fitrah yang
suci, serta mendengarkan tausyia-tausyia dari syeh yang kita cintai, sehingga
hati kita tergugah ketika kita di ceramahi oleh romo kyai, terutama pengasuh pondok
kita, bagaikan hati kita tersiram oleh air dingin kebenaran.dan tidak
mengulanginya agar selalu was-was dari hal tersebut.
Komentar
Posting Komentar