Artikel
oleh:rifky
bachtiar.
Komunikasi sebagai alat candu antar umat.
Kita hidup di
dunia tak lepas dari kegiatan berkomunikasi. Komunikasi tak lain adalah simbol mempererat tali silaturrahmi sesama
makhluk sosial yang notabenenya saling bergantung untuk kelangsungan hidup. Dr.
Halah membagi komunikasi dalam 3 bentuk. Yaitu, komukasi dengan pencipta,
komunikas dengan diri sendiri, dan komunikasi dengan sesama manusia[1].
Komunikasi dengan diri sendiri adalah mengintropeksi diri sebelum menjadi insan yang lebih baik. Sedangkan
sesamanya kita berkomunikasi untuk bertukar informasi serta memberi wawasan.
Berkomunikasi dengan pencipta adalah kegiatan kita ketika selesai beribadah dan
selalu berzikir kepadaNya. Orang arab berkomunikasi sering menggunakan istilah
tawashul dan ittishal. Merujuk pada kata washala yang artinya sampai, tawashul
artinya adalah proses yang dilakukan oleh dua belah pihak untuk saling bertukar
informasi sehingga pesan yang disampaikan dipahami sampai kepada dua belah
pihak yang berkomukasi. Jika komunikasi hanya terjadi satu arah tidak dikatakan
tawashul[2].
Jika kita menemukan seorang sahabat yang kariernya melejit, pasti usaha
sahabat tersebut tak lepas dari komunikasi yang ia sampaikan dengan sangat
cakap dan terampil. Menyampaikan konsep kita kepada orang lain adalah bentuk komunikasi.
Seorang begal melakukan aksi tindakan kriminal disuatu jalan yang sepi untuk
membegal sepeda motor korbannya adalah usaha yang tak lepas dari simbol
komunikasi untuk memastikan situasi pembegal. Komunikasi adalah suatu proses
pertukaran informasi diantara individu melalui sistem lambang-lambang,
tanda-tanda, atau tingkah laku[3].
Dari penjelasan tersebut dapat kita garis bawahi bahwa komunikasi tak hanya
melalui lisan ke lisan melainkan dari bentuk koresponden, televisi, penyampaian
suatu informasi melalui orang yang berkelainan. Jadi komunikasi sangatlah vital
dikalangan masyarakat untuk kegiatan-kegiatan sehari-hari, sehingga ada pepatah
mengatakan bahwa “mulutmu adalah harimaumu”. Maksud dari kata tersebut adalah
sebaik- baik manusia adalah dia yang pintar menjaga lisannya, bahkan permusuhan
banyak terjadi dilingkungan sekitar adalah dari akibat perkataan yang kurang
baik. Hingga menimbulkan permusuhan, pertengkaran, pembunuhan, dll. Gunakanlah
lisanmu untuk menyampaikan kebaikan sehingga hubungan kita semakin baik dengan
sesama saudaramu terjadi diantara keduanya.
Dari pengajian seorang mad’u memperoleh wawasan yang sebelunya tidak
dimengerti. Informasi harus kita cermati keberadaanya karena bisa terjadi
informasi tersebut mengandung unsur perpecahan antar umat. Seperti status
facebook yang mengina satu sama lainnya. Mereka ingin merusak hubungan umat dan
membuat fitnah yang mengada-ada tanpa mengetahui secara pasti benar apa tidak
suatu peristiwa tersebut, sehingga terjadilah perang saudara yang dikarenakan
salah paham antara satu sama lain. Makhluk yang sempurna adalah manusia.
Sehingga Allah menganugrahkan akal untuk mereka yang berpikir. Seorang yang
melukai sesama saudaranya berarti mereka dzolim dengan anugrah pemberian Allah
yaitu akal. Janganlah kita bertingkah laku menyerupai hewan, gunakanlah akalmu
agar perbedaan nampak diantara kedua makhluk antara manusia dan hewan.
Hiaskanlah dirimu layaknya insan yang sepenuhnya dengan akhlak yang menyinari
dirimu. Seorang yang pintar tak guna kepintaran tersebut karena tak
menghiaskannya dengan akhlak namun sebaliknya seorang yang tidak pandai dalam
suatu hal melaikan ia menghiasinya dengan akhlak itu lebih baik. Kejadian
tersebut akibat dari dogma yang ia peroleh tanpa mengetahui secara pasti benar
atau tidaknya suatu peristiwa.
Khabar adalah berita yang dipindahkan dari orang lain dan bisa juga
bersumber dari diri sendiri dan mengandung dua kemungkinan, benar atau salah[4].
Di televisi kita bisa tahu bahwa aktivitas bursa transfer club tersebut sedang
membidik seorang pemain baru. Oleh karena itu dari tayangan yang kita tonton
memberi informasi sedemikian rupa bahkan secara aktual dan terkini. Di rezim
orde baru buku-buku pramoedya anatoer dibakar karena mereka beranggapan bahwa
sumber buku tersebut dapat mengelabuhi pembaca dan berisi upaya menjajah suatu negara.
Baik buruknya suatu informasi tergantung pada seorang yang membacanya, apakah
pembaca mengambil informasi tersebut sebagai pedoman? Karena penyampaian
penulis sangatlah buruk sehingga logikalah harus mempertimbangkan informasi
tersebut dengan cermat. Kita harus lebih cermat memilih dan memilah buku bacaan
yang kita kaji dan siapa yang mengarangnya. Banyak isu-isu politik yang ingin
mengharumkan nama kelompoknya demi tahta. Mereka saling berselisih satu sama
lainnya. Medannyapun menggunakan channel televisi milik pribadi sehingga siaran
di televisi pada saat itu sangatlah meracuni paradigma seorang mad’u sehingga
dengan upaya sedemikian rupa ia terjerumus dengan suatu pilihan yang salah.
Mereka saling beradu yel-yel partai mereka dengan berlandaskan untuk membangun
kesenjangan masyarakat. Sehingga kitapun terkena imbasnya dari upaya yang ia
sampaikan hanya manis dimulut saja tanpa ada pembuktian. Doktrinan yang
dilakukan oknum yang tak dikenal untuk merekrutnya ke dalam organisasi yang
sangat anarkis hingga berbau-bau terorisme. Upayanya pu sangatlah bagus karena
pihaknya membiayai kehidupan mereka denag syarat harus mengikuti pengajiannya
setiap saat. Dengan begitu komukasipun berubah fungsi menjadi alat yang
menghalalkan segala cara dan mereka meracuni paradigma calonnya dengan berbagai
cara yang ia rangkai bagaikan istana megah. Seorang lelaki yang pandai
merangkai kata-katapun menggunakan komunikasi sebagai senjata untuk memikat si
lawan jenis. Pepatahpun mengatakan “tai kucing rasa coklat” adalah walaupun
seorang yang berperwakan yang tak begitu gantengpun bisa mendapatkannya dengan
cara komunikasi yang membuat lawan jenis kelepek kelepek. Tak heran jika
seorang lelaki yang mempunyai banyak kekasih pasti pandai dalam bersilat lidah.
Jadi disi saya mengibaratkan komunikasi bagaikan narkoba, karena bisa
mempengaruhi otak penggunanya. Seorang pecandu hidupnya selalu ketergantungan
akan barang tersebut sehingga ia rela melakukan tindakan kriminal hanya demi
barang tersebut, jikalau hasratnya menggunakan barang tersebut tidak terpenuhi.
begitu juga dengan komunikasi tak kalah berbahayanya dengan candu narkoba dan
bisa meracuni pola pikir seorang objeknya sehingga melakukan tindakan kriminal.
Kampus jogjakarta melarang mahasiswinya mengunakan cadar karena pak
rektor beranggapan bahwa mahasiswi yang menggunakan cadar akibat terkontaminasi
oleh doktrinan sebuah organisasi yang dinilai anarkis. Di kampus tersebut
pernah berkibar bendera ISIS. Pak rektor menilai ini adalah ualh dari seorang
alumni, bahkan tindakan tegaspun dilakukan oleh pihak kampus tersebut dan tak
segan-segan untuk mengeluarkan seorang mahasiswinya yang menggunakan cadar.
Dari macam-macam tindakan diatas tersebut menyalahi fungsi dari komunikasi. Yaitu
fungsi meyakinkan yang artinya membuat ide, pendapat, dan gagasan yang kita
miliki bisa diterima oleh lain dengan senang hati dan tidak terpaksa. Bahkan
bukan sekedar menerima dengan sukarela, mereka yang merasa mantap dengan
penjelasan tersebut bisa menjadi pendukung ide itu[5]. Dengan begitu mad’u yang sangat awam bisa
memilih tuk apa yang disampaikan oleh penda’i tanpa harus ada faktor paksaan.
Seorang mad’u yang berpendidikan bukan dari basisi pesantren sangatlah rawan
dipengaruhi oleh dogma-dogma oleh mereka yang berperawakan layaknya seorang
ulama’. Mereka menjual agamanya untuk kepentingan sendiri sehingga mad’u tak
memiliki dasar-dasar keimanan yang kuat dan tak bisa memilih mana yang benar
dan mana yang bathil. Beruntunglah bagi orang berpendidikan berbasis pesantren
bahwa kita bisa memilih dan memilah dengan apa yang kita ketahui waktu menimba
ilmu di pesantren dulu. Sehingga tugas kitapun harus mengadvokasikan masyarakat
yang tersesat dari jalan Allah. Islampun menghiasi dengan prinsip-prinsip
kedamaian, keramahan, keselamatan.
Dakwah adalah menyeru dan mengajak berbuat kebaikan di jalan Allah.
Berdakwahpun harus melihat medan dakwahnya. Karena sifat seorang mad’u berbeda-beda.
Tak mungkin seorang mad’u yang berpendidikan rendah mampu mencerna suatu pidato
yang menggunakan kata ilmiah. Seorang mad’u yang bertempat tinggal di pedesaan.
Karena mad’u yang tinggal di pedesaan cenderung sangat terbuka dan ramah serta
menerima. Sedangkan seorang mad’u yang tinggal di kota sangatlah tertutup dan
individualistis sehingga hidupnya hanya digunakan untuk berbisnis. Dakwahpun
sangat bermacam-macam seperti dengan perbuatan, dengan lisan, dengan harta,
dengan kitab. Kitapun melaksanakan kegiatan tersebut sangatlah mudah. Karena
identitas kita sebagai seorang santri yang berhiasan iman. Seorang santri pasti
sudah terbiasa melakukan aktivitas yang menjadi pokok kegiatan ketika di
pesantren sehingga ketika di rumah ada yang mengikuti jejak kita. Rosulullahpun
untuk mengajak para sahabatnya
berpartisipasi melalui pendekatan empati yang sangat persuasif dan musyawarah
sebagaimana yang terkandung dalam surat ali imran: 159
فبما رحمة من الله لنت لهم ولوكنت فظا غليظ
القلب لا نفوا من حولك فا عف عنهم وا ستغفرلهم وشاو رهم في الأ مر فإذا غزمت فتوكل على الله إن الله يحب المتوكلين
(159)
“Maka disebabkan rahmad dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut
terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah
mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu karena itu maafkanlah mereka,
mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan
itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bermusyawarahlah
kepada Allah . sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal
kepada-Nya[6].”
Seorang penda’i mempunyai
pola struktur agar kegiatan dakwahnya berjalan mulus yang memungkinkan mereka
untuk mengerjakan untuk mengerjakan program dakwah secara efektif dan efisien
untuk mencapai sasaran-sasaran dan tujuan-tujuan organisasi. Para manajer
dakwah harus mampu mencari efisiensi-efisiensi lain yang dapat dicapai melalui
spesialis kerja. Spesialis kerja itu ialah seluruh pekerjaan tidak dilakukan
oleh satu individu, melainkan diklasifikasikan menjadi beberapa langkah dan
tahapan. Dan setiap langkah diselesaikan oleh orang yang berbeda. Seorang
individu sudah mempunyai skill apa yang ia kuasai menurut kemampuannya.
Keterampilannyapun bermacam-macam. Yaitu,
Ø keterampilan teknis (technical skill) yaitu pengetahuan yaitu pengetahuan
mengenai metode, proses prosedur, dan teknik untuk melakukan kegiatan khusus,
serta kemampuan untuk menggunakan alat-alat dan peralatan yang relevan bagi
kegiatan tersebut.
Ø Keterampilan untuk melakukan hubungan antar pribadi (interpersonal skill)
yaitu pengetahuan tentang perilaku manusia dan proses-proses hubungan antar
pribadi, kemampuan untuk mengerti perasaan.
Ø Keterampilan konseptual (coceptual skill), yaitu kemampuan analisis umum,
berfikir nalar, kepandaian, dalam membentuk konseptualisasi hubungan yang kompleks
dan berarti dua, kreativitas dalam mengembangkan ide serta pemecahan masalah[7].
Seorang penda’i harus sudah menguasai beberapa keterampilan tersebut supaya
objek dakwah kita benar-benar tersentuh dan penyampaian pesan dakwah tersebut
sempurna. Penda’i harus mudah bergaul seperti keterampilan interpersonal skill
agar ojek dakwah kita dapat berbaur dengan kita dan mengetahui bagaimana
kehidupan mereka dan kita mencermati apakah ada yang bertenatangan atau tidak.
Conceptual skillpun harus dikuasai oleh seorang penda’i agar mengetahui moment
apa yang pantas ketika ia menyampaikan pesan terhadap objeknya. Ia membaca
gerak-gerik ojeknya dengan mengetahui kesehariannya secara pergaualan seorang
da’i terhadap objek. Dan seorang penda’i pasti sudah terhiasi oleh ilmu keagaan
yang mempuni, agar pribadi seorang mad’u tersirami oleh sirsaman rohani yang
menyentuh sehingga mad’u ingin kembali ke jalan yang lurus tanpa ada unsur
paksaan.
Komentar
Posting Komentar