Santri Bandel Berkarakter

 

        Di pagi hari ketika jarum jam menunjukkan pukul 07.20 bersamaan dengan berkokoknya ayam, terlihat suasana pondok pesantren dengan aktivitas santrinya sedang mengantre mandi untuk persiapan berangkat ke sekolah. Andi yang kala itu baru terbangun dari mimpinya karena memperoleh sabetan sorban oleh pengurus. Ia pun bergegas mandi dan berganti pakaian dengan membawa sabun beserta peralatan mandi lainnya di dalam gayung yang ia bawa.

    "Aduh ngantre, jadi males banget mandi jadinya!" Ucapnya dengan nada kesal.

Ia pun bertanya kepada seorang yang baru saja selesai dari mandi. Orang tersebut berperawakan kurus dengan tinggi badan sekitar 160cm dan memakai baju kuning basah. Rambutnya pun basah terurai karena ia menggelengkan kepalanya, pertanda bahwa pagi itu sangat dingin. Ia adalah Budi anak lamongan yang sekelas dengan Andi.

   "Bud! Ada airnya gak?" Tanya Andi. "tidak ada an!" Dengan menggelengkan kepalanya pertanda tak ada.

Akhirnya Andi pun mengurungkan niat untuk mandi dan segera berganti seragam sekolah yang ia letakkan di dalam kotak yang bertuliskan namanya. Dengan tergesah-gesah ia tak memperdulikan keadaan sekitar bahwa pengurus sedang mengawasi santri yang berada dikamar 4 Al-maliky. Pengurus itu membawa tongkat dan memukul mukulkan pada pintu kamar 4.

     "Ayo mas!! Cepat jangan lambat!!" Ucap pengurus.

Sontak suara pengurus itu membuat santri didalamnya kaget. Salah satu dari mereka sedang kebingungan mencari dimana celananya, ia pun berkeliling kamar tuk memastikan mukjizat sang kuasa berkehendak padanya. Pagi itu nampak suasana mencekam karena sang pengurus sedang berjaga dijalan depan komplek Al-Maliky tuk mengkondisikan suasana kamar. Andi pun berlanjut ketahap selanjutnya yaitu menggunakan sepatu. Duduklah ia diantara santri lainnya yang tergesa-gesa di pelantaran kamar 4. Sepatu pun terpasang di sepasang kaki Andi. Ia pun lari tuk menghindari penghakiman pengurus yang berjaga dan menuju kearah kelas tuk mengikuti kegiatan belajar mengajar. Andi berlari kearah barat. Ketika sampai di pendopo pondok yang jaraknya tak jauh dari sekolah, Andi pun mengarah keselatan menuju sekolah tercinta. Ketika Andi sampai di halaman sekolah, ia ditegur Osis yang berjaga dan mengatur ketertiban santri. Andi lari kebarat, ketika menaiki anak tangga, terlihat suasana sekolah dari tangga yang ia naiki. Pagi itu teramat ramai oleh suara santri yang sedang bergurau didepan kelas masing-masing. Rata-rata pembahasan cerita dari santri tersebut mengenai tahkiman yang berlangsung tadi malam. Semua tahkiman berkaca pada departement yang ia langgar. Seperti membuang sampah melanggar departement kebersihan, jikalau berbahasa jawa melanggar departemen pengembangan bahasa, dll. Ada pula santri yang bercerita tentang kehidupan dirumah. Andi pun berjalan dengan langkah kaki menuju timur melewati kelas 1IPS2, 1IPS1, 2IPA2  hingga akhirnya langkahnya terhenti di kelas yang bertuliskan 2IPA1. Didalam kelas, seorang guru sedang mengajar dengan mendikte muridnya tentang suatu pelajaran. Lalu guru itu menoleh kearah Andi yang berdiri di pintu. Kala itu jam kelas menunjukkan pukul 07.30 pertanda bahwa Andi terlambat masuk kelas.

       "Hey Andi!! dari mana saja kamu?" Ucap guru kepada Andi.

Suara guru itu membuat Andi cemas dan berpikir tuk mencari alasan guna mengelabuhi guru yang bertanya kepadanya.

       "Anu pak!! Hemmm!!! Ngantri kamar kecil pak!!!" Ucapnya gugup. "Ah!! Jangan alasan kamu!!" Dengan nada geram.

Guru itu memanggil Andi. Jeweran keras didapatnya, dengan tangan masih menempel di telinga Andi, guru itu menasehatinya agar tidak mengulangi perbuatan yang ia langgar.

       "Lain kali kalau masuk kelas jangan terlambat ya!!" Ucap guru itu dengan tangan menjewer. "Iiiya pak!!" Jawab Andi kesakitan. "Yasudah duduk sana!!"

Andi pun duduk dibangku yang bersebelahan dengan seorang berkacamata berbadan gemuk serta rambutnya ikal dan tingginya hanya 120cm. Ia adalah Anto asal Semarang. Anto adalah seorang yang sangat agamis, ketika dimusholla segala amalan yang diajarkan islam ia masukkan dalam saku. Seperti Al-qur’an, wirid, Alfiyah Ibnu Malik serta tasbih digital dikaitkan dijari tengah. Dengan logat jawa yang sangat kental, ia bergaul dengan temannya. Terkadang ucapannya pun ada pelafalan yang salah. Seperti kala itu ia berkata dengan teman sekamarnya. Temannya yang bernama Anggun terikat janji olehnya karena hendak meminjam uang dan Anggun pun berjanji akan mencarinya karena rasa tolerannya dinilai sangat baik. Anggun adalah santri yang sangat kaya, dari kekayaannya bahkan ia berkali-kali mantraktir temannya makan ke kantin. Anto pun ingin meminjam kepadanya. Anggun pun mencari Anto yang hendak pinjam uang kepadanya. Ketika seorang yang ia tuju datang, Anggun pun menepuk pundak temannya itu. Anto langsung menoleh kearahnya dan berkata "Dari mana aja kamu!! Saya tunggu dari tadi ndak teka-teka!!" Ternyata Anto menunggunya di kelas. Anggun sampai lupa bahwa perjanjian tadi dengan Andi adalah di kelas. Sampai sekarang logat Anto masih terdengar aneh karena perpaduan antara bahasa Jawa dengan Indonesia, sehingga siapa yang mendengar  dibuatnya bingung. Andi duduk dan meletakkan buku pelajaran disebelah Anto. Pelajaran pada pagi itu adalah bahasa Indonesia. Didalam kelas kegiatan belajar mengajar berlangsung hingga waktu menunjukkan pukul 12.10 dan denting bel berbunyi pertanda jam pelajaran telah usai. Suara pembacaan do’a dari santri terdengar jelas kepenjuru kelas. Santri pun keluar satu persatu dengan langkah lunglai dan disertai buku yang dirangkulnya. Langkah santri itu bergesekan dengan tanah serta mata memerah akibat tidur pada kegiatan jam pelajaran berlangsung. Mereka menuju gerbang sekolah tuk kembali ke komplek masing-masing. Setelah itu persiapan sholat duhur. Karena kejahilan santri sangat keji, hingga mengabaikan Andi yang tertidur didalam kelas. Tak lama kemudian, Andi terbangun dari tidurnya dan melihat situasi kelas sepi. Ia mengintip dari balik jendela tuk memastikan apakah kegiatan sholat duhur telah usai. Karena jikalau ia kembali pada waktu santri beranjak ke mushallah, Andi akan terkena hukuman pengurus. Entah itu digundul atau dipukul menggunakan rotan pada bagian betis santri yang melangggar.

     "Sial enggak ada yang bagunin!!" Andi menggerutu. "Kalau kaya gini, teman macam apa?"

Andi pun menunggu kegiatan sholat duhur  hingga usai. Ia pun tidur dengan posisi terlentang sambil termenung akan perbuatan yang ia alami dan menatap langit-langit kelas yang berwarna putih. Satu jam telah usai hingga Andi tertidur dalam posisi terlentang. ia pun terbangun dan melihat dari balik jendela nampak santri berjubah putih berjalan kearah timur menuju komplek Al-Maliky. Ia pun mencari ide tuk mengelabuhi pengurus, karena ia masih berseragam sekolah. Ia menemui sarung berwarna merah kehitam hitaman yang berada didalam tong sampah, lalu Andi menggunakannya seakan ia menyapu halaman. Di pondok seorang yang terkena hukuman departement kebersihan akan menjadi bulan-bulanan pengurus. Dan pengurus menyuruhnya sesuai kebijakannya. Semua itu semata karena pengurus ingin medidiknya dengan tertib. Santri yang disuruh pengurus adalah sebagai penebusan dosa dari apa yang ia perbuat. Jikalau santri disuruh menyapu, ia memakai atasan seragam sekolah dan bawahan tetap menggunakan sarung. Itulah kebijakan dari seorang pengurus departement kebersihan. Andi berjalan kearah gerbang sekolah lalu keutara melewati rumah-rumah guru pondok. Tepat dipendopo, ia berbelok ke timur menuju komplek Al-maliky. Sampailah Andi di pelataran kamar dan bergegaslah ia masuk ke dalam.

     "Woy!! Aku gak dibangunin tadi!!" Ucap Andi kesalah satu santri didalam kamar. "Kamu sih tidur terus!!" Ucap santri itu. "Teman macam apa kamu itu?" Ucap Andi kesal.

Andi menyudahi pembicaraannya lalu berganti pakaian tuk bergegas mandi karena ingin melepas penatnya sebab tidur di kelas beberapa kali pada jam-jam pelajaran berlangsung. Digenggamnya handuk yang digantungkan pada kastok dekat kotaknya. Tak lupa sabun, dengan beberapa macam peralatan mandi lalu bergegaslah ia ke kamar mandi. Ia menunggu didepan kamar mandi karena antre. Nampak santri yang lainnya mengantre bersebelahan dengan Andi. Sambil menunggu ia mengobrol dengan santri kamar 2 Al-maliky,Yaitu Bagus asal Sidoarjo. Bagus seorang yang selalu terkena tahkim. Hidupnya penuh lika-liku. Pernah disaat kelas 2IPA1 sedang berlangsung kegiatan belajar mengajar, seorang teman menyodorkan buku cerita. Buku itu karangan salah seorang santri yang sekelas dengannya. Setelah mengetahui isinya certia tentang orang dewasa. Reaksi Bagus mengenai bacaan tersebut langsung tertawa dan terangsang.

    "Woy!! kenapa tertawa kamu Gus? " Ucap pengarang buku tersebut. "Ceritanya seru bro!! Kok kamu bisa mengarang begini?" Jawab Bagus terkagum. "Berarti kamu pakar ya?" Bagus heran. "Ya enggak lah!!" Mengelak. "Gimana karanganku?" Tanya dengan bangga. "Lumayan bisa membuat gairah!!"

Pada malam itu bagus pun dipanggil oleh departement keamanan karena karangan buku cerita tadi dibaca oleh sekian banyak santri kamar 2 Al-Maliky. Kala itu santri melaksanakan setoran nadhom Al-fiyah Ibnu Malik, begitu juga kamar 2. Karena sang pengurus curiga oleh santri yang bergerombol, akhirnya pengurus itu bertanya kepada santri yang bergerombol.

    "Hey!! sedang apa kamu?" Tanya pengurus heran. "Gak ada apa-apa kak!" Jawab salah satu santri. "Nah itu buku apa?" Curiga dengan buku itu. "Coba sini buku itu?" Pinta pengurus itu.

Akhirnya pengurus itu menyita barang bukti berupa buku bacaan yang telah dibaca bergerombol tadi. Karena pengurus itu telah mengetahui isi dari buku tersebut, langsung pengurus itu bertindak dan memberitahunya kepada ke pihak keamanan. Pada hari penyesalan itu, Bagus pun bergegas ke kantor departement keamanan. Karena dirasa hukuman telah dimengerti karena melihat situasi  temannya yang sedang cukur mencukur satu sama lain. pengurus departement keamanan pun menyuruhnya mencukur ke pangkas rambut depan komplek Al-Maliky. Setelah mencukur rambutnya, bagus pun disuruh mencari namanya dari list yang diberikan oleh pengurus departement keamanan. Dalam list tersebut adalah tersangka yang telah membaca karangan dari seorang santri. Bagus pun mencari dari atas hingga pada bagian akhir list, ternyata namanya pun tidak ada. Mungkin hari itu adalah hari sial bagus, bahwa ia digugat sebagai tersangka. Sedangkan dalam list daftar pelanggar tidak ada namanya tercantum.

    "Huhhhhh!! Kok bisa aku ke kantor keamanan?” Tanya Bagus pada dirinya. "Padahal namaku tidak ada?" "Coba aku tidak kesana!! Tidak akan begini jadinya!!" Ucap Bagus menyesal.

Ketika Andi sedang asyik mengobrol, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka tanda seorang didalamnya telah usai mandi. Kali ini giliran Andi yang masuk ke dalam kamar mandi tersebut untuk mandi. Setelah mandi, Andi sholat duhur lalu berangkat ke musholla. Suasana musholla sangat ramai dengan puluhan santri yang memakai jubah warna putih. Santri yang pergi ke musholla sebelum masuk waktu shalat adalah mereka yang mempunyai latar belakang orang terpandang. Kegiatan santri yang pergi ke musholla hanya untuk melaksanakan anjuran agama. seperti, wiritan, hafalan Al-fiyah Ibnu Malik. Termasuk juga Andi. Ia adalah seorang yang terpandang, melihat dari silsilah keluarga, Andi termasuk keturunan kyai. Orang tuanya selalu memberi mau’idoh hasanah ke masyarakat. Oleh karena itu ia dipondokkan sebagai pengganti abahnya ketika kelak abahnya telah tiada. Abahnya pun selau berpesan kepadanya bahwa "Belajar dipondok yang rajin, supaya besok menjadi pengganti abah." Kata itu pun selau diingatnya sampai Andi tak lupa berangkat ke musholla lebih awal tuk mendo’akan abahnya. Musholla pun ramai, karena waktu menunjukkan pukul 14.22 pertanda bahwa memasuki waktu sholat asar. Dan adzan berkumandang yang dilantunkan oleh salah satu santri. Andi pun sholat sunnah begitu juga santri lainnya yang datang melaksanakannya. Terlihat musholla pada hari itu seperti lautan putih yang dipenuhi santri berjubah putih. Setelah sholat sunnah, santri beritikaf dengan wiritan pondok yang disajikan dalam bentuk buku saku agar tak keberatan tuk selalu mengantonginya ketika berangkat ke musholla. Setelah beberapa menit berlalu, sang pengasuh pondok datang. Santri pun memberinya jalan dengan membelah dari beberapa shof yang dilewati beliau dan membentuk jalan menuju shof imam. Disaat itulah dimulai sholat asar. Hingga waktu wiritan telah usai denagn disusul pembacaan "laailaa ha illallah almaujudu fi kulli zaman" pertanda waktu berakhirnya wiritan sholat asar. Lalu Andi berjalan kearah timur kearah komplek Al-Maliky. sambil berjalan ia ngobrol dengan budi yang bertemu di pertengahan jalan.

    "An!! Kamu sudah bayar ujian?" Tanya budi. "Emang ujiannya kapan?" Tanya dengan nada bingung. "Besok An!!" "Waduh!! Belum minta duit ke orang tua lagi!!"

Andi pun bingung dengan persyaratan mengikuti ujian, karena Andi belum meminta kepada orang tuanya. Ia pun akhirnya meminjam uang kesana kemari hanya untuk memenuhi persyaratan mengikuti ujian. Andi mengunjungi kamar perkamar tuk mencari temannya yang hartawan dengan tujuan meminjam uang. Setelah beberapa lama mencarinya, akhirnya takdir sang kuasa berpihak kepadanya. Tepat dikamar 8, ia berjumpa temannya yang bernama Rozi.

     "Zi!! kamu kan banyak uang, boleh donk pinjam uangmu?" Tanya Andi yang kebingungan. "Ayolah Zi!! Kapan lagi kamu bersedekah kalau bukan disaat moment yang tepat seperti ini?" Rayu Andi. "Sebentar saya cek di kotak!!" Jawab Rozi. "Pinjam berapa?" Tanya Rozi. "350 ribu" Jawab Andi. "Ini An!!" Ucap Rozi seraya menyodorkan uang kepada Andi. "Kapan kamu kembalikan?" Tanya Rozi layaknya rentenir. "Kalau aku kiriman, pasti aku bayar."

Keesokan harinya dikala santri sarapan, Andi pun mandi dan tak mau mengulangi kesalahannya yang kedua kali ketika terlambat pada jam pelajaran kemarin. Sehingga ia mendapat hukuman dari guru bahasa Indonesia. Setelah mandi, ia memakai seragam sekolah lalu berjalan kearah barat menuju dapur. Suasana dapur pagi itu sangatlah ramai karena santri juga mengambil jatah sarapan. Santri pun baris berbaris seperti pasukan pengibar bendera. Santri berbaris dari depan hingga belakang. Karena ada pepatah mengatakan bahwa "Santri itu sabar dan mengantre." Kata-kata itu masih melekat di jiwa santri hingga saat ini mereka tertib mengantre. Setelah sarapan, Andi bergegas menuju kantor tata usaha untuk membayar ujian. Di kantor keadaannya pun sama dengan dapur, hanya saja tidak ada tempat nasi, kompor, nampan, piring. Hanaya saja santri yang mengantre untuk dapat lebih dulu membayar dan memperoleh kartu ujian, lalu masuk kelas untuk tes-tesan hafalan Al-fiyah Ibnu Malik. Di pondok sistem ujian yang dilaksanakan yayasan adalah  mendahulukan hafalan Al-fiyah Ibnu Malik. Penguji pun memberi target hafalan. Semester 1 santri harus hafal 150 nadhom, jika tidak tercapai maka nilai jelek yang ia dapat. Beranjak ke smester 2 santri harus menghapal 350 nadhom dan seterusnya hingga beranjak ke kelas 3. Sampai kelak santri menghafal minimal 600 nadhom. Barang siapa dari santri yang melampaui target tersebut, ia berhak wisudah. Bagi santri yang tidak melampui, ia tidak berhak wisudah. Setelah antrean-antrean bergilir, akhirnya Andi mendapat giliran tuk melunasi persyaratan ujian. Tangan Andi pun memegang uang dan menyodorkannya lewat sela-sela besi jendela yang didalamnya terdapat karyawan  tata usaha. Setelah diterima oleh TU, Andi menerima kartu ujian. Tak pikir lama ia akhirnya lari menuju kelas 2IPA1. Setelah sampai disamping kelas, ia berjumapa dengan Anto yang telah usai lebih dulu dan langsung bergegas tuk kembali ke kamar. Andi pun bertanya kepadanya.

      "To!! Hafal berapa kamu?" Tanya Andi penasaran. "300 nadhom" Jawabnya bangga "Waduh gimana ya?" Ucap Anto kebingungan. "Kenapa kamu An?" "Enggak pede aku!!" Jawab Andi tak yakin. "Ngapain bingung!! Kan bisa dijoki!!" Jawabnya memberikan solusi. "Hah ide bagus Ton!!" Ucap Andi setelah terinspirasi.

Setelah mendapat hidayah dari Anto, Andi pun mencari teman yang mahir dan hafal banyak nadhom. Ia pun berjalan ke timur menuju pelantaran kelas. Tepat di kelas 2IPA2 ada seorang yang mahir dalam menghafal maupun penjelasannya. Ia adalah Sholeh asal Indramayu. Sholeh yang kala itu bergurau didepan kelas dan Anto pun memanggilnya serta bertanya kepadanya.

      "Leh aku butuh bantuanmu!!" Ucap Andi dengan wajah memelas. "Bantu apa?" Tanya Sholeh bingung. "Kan kita teman, Boleh dong dijokiin?" Tanya Andi manja. "Ayolah!! nanti saya teraktir sesukamu di kantin" Andi menawari Sholeh. "Ayo!!"

Tanpa pikir lama, Andi pun memegang tangan Sholeh dan membawanya ke kelasnya yaitu 2IPA1. Sholeh pun masuk kelas dan duduk di bangku nomer 2. Terdengar santri dengan lantunan nadhom yang dilafalnya supaya dites penguji tak gugup dan lancar. Satu persatu santri maju dan penguji pun bertanya dengan melafalkan nadhom, santri yang diuji hanya melanjutkannya. Saatnya Sholeh maju setelah absen nomer 4. Soal satu persatu dilahap oleh Sholeh dengan mahirnya. Setelah penguji itu melihat Sholeh, ia pun curiga dengannya. Dan bertanya kepadanya.

    "Nama kamu siapa?" Tanya penguji itu. "Andi pak!!" jawabnya gugup. "

Penguji itu pun bertanya pada santri di kelas tersebut.

     "Benar namanya Sholeh anak-anak?" Tanya penguji itu pada santri kelas tersebut. "Bukan pak!!" Jawab santri dalam kelas itu bersamaan. "Kenapa kamu berbohong?" Tanya penguji itu. "Disuruh Andi pak!!" Ucap Sholeh. "Panggil Andi suruh ke kantor!!" Suruh penguji itu.

Sholeh memanggil Andi yang sedang asyik ngobrol di tangga dengan santri yang telah usai pengujiannya.

      "An dipanggil penguji di kantor!!" Panggilnya cemas. "Lho kenapa?" Tanya dengan curiga. "Ah udah kesana dulu aja deh!!"

Setelah itu Andi ke kantor dan penguji itu melapor pada pihak keamanan yayasan. Akhirnya Andi pun digundul oleh keamanan tersebut karena curang. Dan ia menyesal atas perbuatan tersebut.

    

 

 

 

           

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Santri Bandel Berkarakter

essay