Tinta Seekor Semut

Nama saya Rifky Bachtiar dan temanku akrab menyapaku dengan laqob (julukan)  bean. Saya tinggal di Jakarta dan menjalani masa pendidikan dasar sampai menengah pada kota Metropolitan tersebut. Aku tumbuh diperkampungan Jakarta yaitu Desa Tosan, Kecamatan Cakung, Kelurahan Cakung Barat, Provinsi DKI Jakarta, Jakarta timur. Kampungku mayoritas suku Madura, usaha penduduk sekitar yang mereka geluti adalah membuat palet, besi, dan barang bekas plastik. Palet adalah susunan papan yang tersusun vertikal berjajar dengan beralaskan kayu balok yang tersusun horizontal dan diperkuat paku pada setiap rangkaian balok dibawahnya. Biasanya bisnis penduduk sekitar mempunyai langgangan agar barang tersebut tersupply pada perusahaan tertentu. Kompetitor pun sangat ketat pada usaha tersebut, terlihat dari jalan perkampungan tersusun palet menjulang pada setiap rumah-rumah warga. Bahkan rumah warga sekitar hampir tidak terlihat karena tertutupi palet didepan rumah mereka. Penduduk setempat lebih menekuni usaha tersebut ketimbang bergantung pada orang lain yang hasilnya tidak menentu dan terikat oleh sistem yang ada. Dari hasil usaha tersebut mereka mampu bersaing satu sama lain sehingga memiliki mobil serta rumah megah. Terdengar jelas saat percakapan mereka yang berlogat kaku dan kental dengan gaya khas suku Madura. Setiap pagi aktivitas warga desa yang berlalu lalang dengan keperluan logistik oleh setiap ibu-ibu yang memadati grobak tukang sayur ketika menjajahkan barang dagangannya. Saat ibuku tidak menemukan keperluan yang diinginkan ketika berbelanja, beliau selalu mengajakku ke pasar kalimalang yang berjarak 5km dari tempat tinggalku. Ibuku berbelanja pagi sekali supaya barang yang diinginkan tersedia pada pasar tersebut. Tak hanya berbelanja yang dilakukan oleh ibu-ibu, kamu laki-laki pun turut memeriahkan pagi kala itu dengan duduk diatas Bale (tempat duduk yang lebar) sambil berbincang-bincang dengan sahabat atau tetangga. Kejadian tersebut sering kali kulihat ketika aku berangkat sekolah dengan mengendarai sepeda motor dan melintasi perkampungan tersebut. Biasanya aku disuruh ibuku untuk membeli bekal sekolah berupa nasi uduk yang dapat aku temui ketika pagi hari.

Sesampai di sekolah, terdengar murid-murid yang melafalkan surat-surat yang tertera pada Juz Amma. Tradisi tersebut dilaksanakan ketika pagi hari menjelang kegiatan belajar mengajar akan dimulai. Setiap murid diwajibkan membawa Juz Amma dan ketika melanggar, konsekuensinya sesuai kebijakan wali kelas. Seperti, dipanggil guru untuk maju kedepan, Push Up sampai lelah dan yang terparah yaitu Wali Kelas mengusirnya dari kelas.

Kelasku terdapat di lantai dua pada gedung baru yang menghadap barat. Gedung tersebut sedang menjalani masa pembangunan untuk menambah daya tampung sekolah. Papan tulis yang tersedia masih baru dengan beberapa aksesoris kelas yang terdapat pada laci meja guru yang masih tersegel plastik. Aku sering nongkrong pada bangunan tersebut yang lokasinya paling utara kelas dibagian lantai dasar. Biasanya aku dan teman-temanku kesana pada waktu jam istirahat sekolah dengan berbekal makanan ringan ala sekolahan yang dibelinya dikantin. Hingga bercerita seputar penghuni kelas, mulai yang tercantik sampai permasalahan kelas yang kawan-kawan alami pun turut diceritakan pada suasana tersebut.

 Ketika sampai di Kelas, ternyata aku sadar bahwa perjalananku sia-sia karena telat. Didepan meja murid yang bersebelahan dengan meja guru terdapat teman-temanku yang dihukum berdiri sampai selesai pembacaan surat pada pagi itu. Ketika melintasi pintu kelas, aku dipanggil oleh guruku.

“Rifky! dari mana aja kamu, kok telat?” Ucap Pak Mukhsin memarahiku.

“Maaf Pak! Saya bangun tidur!” Ucapku terus terang.

“Yasudah! Berdiri disini!” Celoteh Pak Mukhsin sembari mengacungkan jari telunjuk pada deretan murid yang berdiri.

Setelah beberapa menit, pembacaan surat pun telah usai dan aku disuruh duduk oleh Pak Mukhsin. Kriiinggg!!!  Bel berbunyi pertanda jam pelajaran berganti. Pak Mukhsin membawa tasnya serta mengaitkan pada pundak sebelah kiri dan bergegas meninggalkan kelas menuju kearah pintu.

Assalamualaikum!” Salam Beliau kepada murid sembari berjalan kearah pintu.

Susunan meja didalam kelasku yaitu terdapat 4 baris, setiap barisan terdapat 5 kursi yang tersusun hingga bagian belakang kelas. Aku duduk pada baris ketiga. Tempat duduk tersebut dianggap sangat strategis oleh murid yang memiliki tingkat kenakalan diatas rata-rata. Biasanya murid yang pandai lebih memilih duduk pada posisi dekat dengan bangku guru, sehingga ketika jam pelajaran berlangsung ia tidak merasa kesulitan untuk memahaminya. Seorang siswa yang memiliki predikat pintar, rata-rata memiliki paras cantik. Entah mengapa anugerah tersebut menyertai murid yang berparas canitk. Mereka pun hidup didalam kelas berkeloni seperti ikan salmon. Mereka duduk pada barisan kursi paling depan dengan diikuti kelompok lainnya dibelakang barisan. Jika bel istirahat tiba, siswa-siswa tersebut membuat halakoh ala ibu-ibu arisan dengan menyusun kursi-kursi melingkar. pembahasannya pun bervariasi, mulai dari fasion, pelajaran, serta cowok-cowok ganteng pun mereka bahas. Kelompok siswa berparas menengah biasanya tersisihkan dari kelompok mereka. Siswa cowok lebih memilih berkelompok yang didalamnya terdapat siswa cantik. Jika terdapat tugas kelompok, aku yang berstatus lelaki terasa terkacangi oleh mereka yang membahas seputar tugas kelompok. Terkadang pembicaraanku terpotong oleh teman-teman yang berstus laki-laki dengan dalih pembahasan tugas. Akan tetapi mereka menyalahi norma-norma yang berlaku. Mereka sebaliknya malah asyik menggombal. Suasana saat itu seakan berubah menjadi tayangan film korea dengan cerita asmara-asmara didalamnya. Akan tetapi aku hanya berperan menjadi setan yang mengganggu aktivitas mereka.

 Seorang bendahara kelas datang pada barisan tempat dudukku karena menagih uang piket yang dipergunakan untuk suguhan guru. 

“Bean! Bayar uang piket!” Bentak bendahara kelas dengan wajah mengerut karena kesal.

“Santai bro! Baru juga dateng, malah loe omelin?” Ucapku membalas.

“Berape?” Sembari merogoh saku.

“Pake Tanya lagi!” Ucap bendahara menggerutu.

“Nih!”             Ucapku sembari menyodorkan uang sebesar Rp1000 Rupiah kepadanya.

Terlihat sosok perempuan paruh baya berjalan dari kelas XI-5 yang terletak dibagian selatan dan berjalan kearah utara menuju kelasku. Perempuan tersebut adalah guru Matematikaku yang bernama Bu Mahisoh. Beliau adalah guru yang terkenal killer. Beliau tak segan-segan menghukum siswa yang lalai terhadap tugasnya. Hukuman tersebut pun bervariasi, seperti menjewer, mencubit, bahkan memarahinya. Murid-murid kala itu tidak pendendam seperti saat ini. Walaupun murid terkenal bandel, tetapi ia tidak melawan ketika guru menghukum. Sebab seorang guru yang menghukum mempunyai misi tertentu yaitu merubah pola hidup siswa yang telah melanggar aturan dan diberi hukuman oleh guru agar tidak mengulanginya.

Bu Mahisoh berjalan pada kursi didepan kelas yang terletak diutara tepat dihadapan murid-murid kelasku. Sontak murid-murid yang berhamburan seketika menempati kursi mereka.

“Selamat pagi anak-anak!” Sambut Ibu Mahisoh.

“Pagi Bu guru!” Jawab murid serempak. 

“Kemarin Ibu beri soal tentang Al-jabar, apa sudah selesai?” Ucap Bu Mahisoh bertanya.

Murid-murid tampak kebingungan atas perkataan Bu Mahisoh. Sebab murid yang kurang terampil dalam segi berfikir biasanya selalu bergantung pada pekerjaan orang lain yang lebih mahir. Seperti halnya aku, Esa, Ari yang selalu menjadi langganan untuk setia menunggu Agus yang belum datang. Aku datang lebih pagi untuk mendapat asupan tersebut. Disusul Esa, Ari yang baru datang dengan tas ransel yang masih digantung dikedua pundaknya. Ia berdua merasa terkejut ketika mendapat kabar bahwa pada jam pelajaran Bu Mahisoh terdapat PR. Kami pun langsung menunggu Agus dan duduk pada kursinya yang terletak disebelah kanan barisan paling depan. Ketika datang, kami pun membuka tas Agus tanpa izin terlebih dahulu karena bersifat mendesak dan waktu menunjukkan pukul 07.08 yaitu kurang 12 menit jam pelajaran dimulai. Terkadang murid perempuan yang memiliki kapasitas berfikir lebih selalu menolak untuk memberi bantuan berupa hasil kerja kerasnya. Mereka beranggapan hasil kerja yang telah ia buat akan terlampui nilainya oleh mereka yang fakir dalam hal berfikir. Oleh karena itu mereka menolaknya.   

Satu persatu murid-murid mengumpulkan hasil pekerjaan rumah pada meja guru, sedangkan kami yang kebingungan merupakan siswa yang tidak mengerjakan PR tersebut. Aku pun tampak kebingungan dan melihat diantara kerumunan siswa tersebut, aku pun menghampirinya, alangkah terkejutnya aku karena melihat kerumunan tersebut merupakan siswa yang sedang nyontek. Aku menjadi satu dengan kerumunan tersebut untuk mendapatkan contekan layaknya antrian pada agen sembako ketika kemarau tiba. Kegiatan tersebut merupakan tradisi yang terjadi ketika PR belum selesai dan guru menagih tugas tersebut pada hari itu.  Itulah jalan satu-satunya untuk lolos dari hukuman guru.

“Jis sonoan dikit dongg!” Pintaku pada Ajis yang sedang mengerjakan PR.

Tanpa cakap panjang, Ajis pun berbagi tempat denganku dan aku langsung duduk disebelah Ajis untuk mengerjakan tugas tersebut. Setelah beberapa menit, Bu Mahisoh menghitung buku yang terkumpul pada mejanya dan membandingkan dengan jumlah siswa yang hadir. Ternyata buku yang terkumpul tidak sesuai dengan jumlah siswa.

“Lho yang lainnya kemana? Kok cuma segini?” Cetus Bu Mahisoh.

“Ayo siapa yang tidak mengerjakan PR maju?” Cetus Bu Mahisoh dihadapan murid.

Bu Mahisoh berjalan kearah timur yang terdapat siswa berkerumun dibarisan paling akhir. Bu Mahisoh mengetahui bahwa komplotan tersebut merupakan siswa yang sedang mengerjakan PR.

“Hey!! Ayo ngapain kamu?” Ucap Bu Mahisoh memergoki mereka.

karena aku duduk pada bagian kanan dan strategis dengan posisi Bu Mahisoh yang sedang berdiri, aku pun dijewer dan disuruhnya maju kedepan kelas.

“Ayo maju semua!!” Bentak Bu Mahisoh.

Akhirnya aku, Ari, Esa, Mukmin, Bagus maju kedepan untuk menerima hukuman oleh Bu Mahisoh.

“Kebiasaan kamu ya!!” Sembari menujuk kami yang sedang berdiri.

“Kenapa kalian selalu tidak mengerjakan PR?” Ucap Bu Mahisoh menceramahi kami.

“Minta dihukum apa ini?” Tanya beliau.

“Push up aja ya?” Tawaran beliau.

“Ya Bu!” Jawab kami serempak.

“Sekali lagi melanggar nggak boleh masuk kelas ya?

“Ya Bu!” Jawab kami serempak.

Kami pun push up hingga lelah dan Bu Mahisoh menyuruh kami duduk pada tempat masing-masing. Pelajaran pun dimulai. Pelajaran pada hari ini adalah matematika tentang Al-jabar. Suasana pada kelas tersebut sangat sunyi hanya ada suara Bu Mahisoh yang sedang menjelaskan pelajaran tersebut. Siswa yang tidak minat akan pelajaran tersebut memilih untuk menghibur diri dan menggambar pada buku pelajaran tersebut. Aku termasuk dari sekian siswa yang tidak menyukai pelajaran tersebut. Bagiku Matematika seperti halnya bahasa mandarin yang sulit aku baca. Sering kali aku selalu telat dalam mengerjakan soal yang telah diajarkan oleh Bu Mahisoh. Ketika telat, aku nyontek dengan Agus yang dinilai pandai pelajaran tersebut. Dalam proses penulisan angka-angka, tulisanku banyak yang mendapat teguran dari Bu Mahisoh karena banyak penulisan yang salah. Hal itu aku alami karena tulisan dari buku panduanku sulit aku baca, sedangkan waktu istirahat akan berbunyi. Banyak teman-temanku selesai terlebih dahulu, hanya aku seorang diri yang fokus menulis dengan gerakan pena menari-nari liar karena tergesa-gesa.

“Sampai sini paham?” Ucap Bu Mahisoh kepada murid.

“Paham Bu!” Jawab sebagian siswa.

Kelas terasa sunyi tanpa ada respon sedikit pun dari pelajaran yang dijelaskan beliau. Murid yang mengerti hanya mengangguk-anggukkan kepala sembari mencatatnya dalam buku tulis yang disediakan. Didalam kelas, siswa yang memahami pelajaran tersebut hanyalah seorang perempuan. Perempuan dinilai aktif dalam setiap pelajaran, jikalau ia tidak memahaminya ia pun tidak malu bertanya hingga mengerti tentang pelajaran tersebut. Jumlah perempuan pada kelasku pun sangat mendominasi. Disaat jam pelajaran belum dimulai, suara kelasku sangat ramai seperti pasar minggu yang dipadati pengunjung. Aku pun baru sadar bahwa didalam kelasku terdapat saudara dari Istri pamanku yaitu Bu Juwairiyah. Anak itu bernama Ulfa Hasanah. Ibu dari Ulfa Hasanah adalah Ponakan dari Bapak angkat Bu Juwairiyah. Aku mengetahuinya ketika jam istirahat berlangsung dan aku bercakap dengannya.

“Nenek kamu Maisurah ya?” Tanya Ulfa kepadaku memastikan.

“Kok tau?” Jawabku heran.

“Kakek kamu Rifa’i ya?” Tanya Ulfa untuk kedau kalinya.

“Lah! Kok tau?” Jawabku sembari memandang Ulfa dengan penuh rasa heran.

“Aku saudara dari Ibu Juwairiyah!” Cetus Ulfa menjelakan kepadaku yang terheran-heran.

“Pantesan kok tau, saya kira kamu Ponakan Deddy Corbuzer!” Cetusku tertawa.

Jam menunjukkan pukul 09.15 dan bel pun berbunyi pertanda jam istirahat berlangsung. Murid-murid pun berhamburan keluar kelas dengan kesibukannya masing-masing, ada yang sholat duha pada aula dekat gedung baru tempatku belajar. Sedangkan siswa lain pun lebih memilih menghabiskan waktu istirahat dengan nongkrong bersama teman sebaya ditempat-tempat tertentu. Ada yang berlokasi diparkiran sekolah dibelakang masjid, ada siswa yang tidak ingin keluar kelas karena uang saku yang ia bawa telah habis, ada juga siswa yang nongkrong pada gudang sekolah yang lokasinya tidak jauh dari tempat parkir.

Setiap istirahat, aku menyisihkan uang saku sebesar Rp 3000 untuk membeli segelas mie instan. Lokasi penjualnya pun terletak tepat didepan gedung baru dan menghadap ke selatan. Mie instan tersebut berwadah gelas plastik yang berukuran besar. Mie tersebut hanya tersedia dua rasa, yaitu soto dan goreng. Aku lebih suka rasa soto karena kuahnya sangat nikmat dan biasa aku mencampurkannya dengan kerupuk agar semakin terasa nikmat. Antrian panjang siswa yang membeli mie instan tersebut tidak beraturan sehingga mereka yang mengantri berdesak-desakan dengan siswa lainnya. Pernah kala itu siswa yang mengantri terkena tumpahan dari mie instan dengan kuah panas dan menyenggol barisan tepat dibelakangnya, sehingga mengenai baju sekolah yang ia kenakan. Siswa yang tersenggol akan memarahinya karena ulah tersebut.

“Woi! pelan-pelan dongg, panas tau!” Ucap siswa yang tersenggol.

“Udah tau panas, ngapain dibelakang gue?” Cetus siswa yang membawa mie instan.

Siswa tersebut pun pergi dengan setengah kuah yang sebagiannya tertumpah. Entah apa yang ada dibenak siswa tersebut sehingga tega meninggalkan korban tanpa meminta maaf. Jika kuah tersebut mengenai seorang siswa dengan jiwa petarung, tanpa banyak cakap siswa bengal tanpa rasa iba tersebut akan terkena bogem disalah satu bola matanya dan akan menjadi pertarungan MMA yang amat seru pada barisan pengantri tersebut. Bayangkan saja, jika siswa mengantri dengan keadaan lapar ingin mengkonsumsi mie instan tersebut dan rela berdesak-desakan. Bukanlah rasa kenyang yang didapat, melainkan tumpahan kuah mie instan. Anehnya lagi siswa tersebut tidak memiliki hati nurani kepada korban dengan seenaknya meninggalkan begitu saja. Layaknya film Naruto, mungkin jika korban berjiwa petarung, pasti mengeluarkan cakra kyubi dan langsung menghantamkannya dengan bom biju tanpa ampun.

                Siswa yang mengantri pada kantin tersebut bermacam-macam tujuannya, ada yang membeli buku pelajaran, ada yang membeli baju olah raga dan peralatan-peralatan sekolah. Maklum, karena penjual tersebut adalah seorang guru penjual peralatan sekolah. Beliau membuka usaha tersebut sebagai sampingan dari pekerjaannya. Dengan lahan yang tidak seberapa luas, beliau menjual barang dagangan tersebut. Putra dari beliau adalah seangkatanku yang bernama Abay. Abay adalah siswa yang termasuk dalam kategori unggulan yaitu IX-2. Lokasinya pun tidak jauh dari kelasku, hanya berjarak 7m.

            Aku dikelas terkenal sangat Culun, sering kali aku disuruh oleh siswa-siswa bertampang sangar dan menjadi bahan bullyan dikelas. bullyan itu silih berganti datang hari demi hari. pernah ketika aku mengerjakan pelajaran Matematika, temanku Rizky Thupang mengambil penaku secara paksa dengan membabi buta dan membuangnya ke luar kelas. Aku pun merasa geram dengan perlakuan tersebut, akan tetapi aku tidak berani melawannya karena bocah tersebut terbilang bengis. Tidak hanya itu, ketika pulang sekolah aku terkadang membonceng bocah bengis itu dan mengantarkannya pulang ke rumah. Saat diperjalanan, bocah bengis itu mencabut setangkai rumput gajah dan menggeseknya pada leherku. Aku yang membonceng dengan terfokus pada satu titik jalan merasa seperti terkena balsem yang mengeluarkan kehangatan pada kulit ketika dioleskan.

            “Au!! Anjir apaan ini!” Keluhku kesakitan.

            “Hahaha! Sakit ya?” Tanya bocah itu dengan tertawa melihatku.        

            Padahal aku selalu membuat startegi untuk menghindari tumpangan dari bocah tersebut. Dengan menitipkan sepeda dirumah temanku bahkan terkadang diparkir ditempat yang jauh dari pemukiman siswa. Namun hasil tersebut adalah nihil, masih saja bocah itu selalu memergokiku. Mungkin bocah itu adalah jelmaan dari pesulap, sehingga ia dapat melacak keberadaan barang-barang yang sedang disembunyikan oleh korbannya. Sepedaku pun pernah kempes pada ban depan, entah siapa pelakunya aku tidak tahu, mungkin ini adalah ulah siswa yang dendam kepadaku karena enggan diboncengi. Perlakuaanku sedemikian rupa bukan pelit terhadap mereka, melainkan ini bentuk pembalasanku karena mereka keji membullyku disetiap waktu. Andai saja pembullyan itu tidak ada, mungkin aku lebih Fair terhadap mereka. Siapa yang ikhlas ketika mendapat perlakuan tersebut? Tidak ada dari siswa kelasku dengan lapang dada menjadi bahan bullyan, jika ada, mungkin siswa tersebut akan beralih posisi sepertiku menjadi teror oleh siswa bengis. Kalau drama film terdapat adegan tersebut, kurasa sangat maklum karena mengikuti skrip dari cerita. Ditayangan televisi seorang yang melanggar norma-norma yang berlaku, pemeran tersebut sampai terkena Azab sehingga hidupnya hanya seumuran jagung serta backsound terlantun sedih. “Terangkanlah-terangkalah jiwa yang berkabut langkah penuh dosa.” Kalau cerita itu berlaku pada kehidupanku, mungkin pembullyan akan berakhir dan pelakunya seperti film tersebut.         

           

                       

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Santri Bandel Berkarakter

essay