berlatih persembahan Lpm
Berlatih persembahan Lpm
Pada saat mahasiswa dan mahasiswi berdiskusi terkait acara dies
maulidy, aku mendapat beban terbaru setelah Rahma berkata "Sumber
utama ketertarikannya mahasiswa dan mahasiswi ialah pada pertunjukan teater."
kita sebagai anggota mendapat cambukan dari pemberitahuan tersebut untuk segera
melaksanakannya. Ketika ketua teater bingung tuk mengambil keputusan akan tugas
tersebut antara iya atau tidak. Aku Rahmad, Syukron, Fathur, Rozak merencanakan
sesuatu untuk mengisi ketidakpastian teater sarung.
"Bagaimana
kalau kita minta bimbingan oleh Pak Rikhwan selaku pelatih teater sarung?"
Ucapku dengan wajah bingung.
"Kalau
benar kita minta bimbingan Pak Rikhwan, nanti sore kita persiapkan pakaian
supaya langsung capcus!!" Ucap pria
berbehel yang menghiasi giginya.
"Aku
selesaikan perlengkapan acara yang terletak didalam pondok, aku percaya kok
sama kamu bertiga." Ucap Rahmad.
"Tapi
acara Dies Maulidy kurang dua hari lho, sedangkan kita belum selesaikan
perlengkapan yang terletak didalam."
Akhirnya kita mendapat opsi. Opsi tersebut adalah Aku bertiga
membuat persembahan teater. Aku menjadi anak, Rozak menjadi Ayah, Fathur
menjadi Kakak. Teater tersebut berjudul keluarga keplek. Karena Genre
yang ditampilkan dari teater tersebut komedi. Komedi sendiri sangat mudah
memikat penonton untuk menertawakan terater kita. Sore itu kami bertiga ngopi
di area tikungan dekat jembatan yang dibawahnya jalan tol. Warkop itu bernama Ndomboss.Warung Ndomboss adalah milik teman kami yang
bernama Khalil Gibran. Ia juga berkuliah sekampus dengan kami yang terletak di
dalam pondok. Gibran adalah mahasiswa Fakultas pengajaran agama islam, prodi
tarbiyah. Dahulu warungnya berada di PPS dekat dengan warung yang sekarang ia
gunakan tuk mengais rejeki, hanya berjarak kurang lebih 20m dari tempatnya
sekarang. Namun, entah mengapa Gibran berpindah
tempat. Mungkin jarak warung dengan jalan akses desa suci sangat strategis,
membuat hal tersebut menjadi magnet tuk menarik perhatian pengunjung.
"Bean!!
Ayo ikut saya" Ucap Fathur.
"Mau kemana tur?"
"Ayo ikut
kok!!"
Akhirnya Aku dan Fathur mengendarai sepeda motor ke GKB melewati
pertigaan tugu. Motor tersebut adalah sewaan. Kendaraan yang menjadi sarana
anak pondok tuk bepergian. Biasanya motor sewaan tak selalu memiliki bahan
bakar full. Walaupun full itu adalah keberuntungan seorang yang mengunakannya,
sebab seorang yang memakainya memiliki hati yang baik, karena ia tak lupa
mengisi full tangki motor yang dipakainya. Fathur pun mengisi tanki motornya
setelah ia melihat indikator petunjuk bensin mengarah ke huruf "E"
Fathur pun mengisinya satu liter. Setelah itu Aku dan dia capcus menuju toko
pembuatan throphy. Setelah berjalan entah kemana arah dan tujuan yang ia tuju,
akhirnya kami sampai di toko pembuatan throphy. Kami pun memilih dan memilah tuk
mencari penampilan throphy yang bagus dan indah.
"Bagus yang mana bean?" Sembari mengacungkan jari telunjuknya kearah
throphy tersebut.
"Terserah Tur!!" Ucapku pasrah.
Ia bertanya harga sebuah throphy yang berbahan
marmer terpampang disebuah etalase dengan tinggi nan indah.
"Yang ini berapa Mas?" Ucap Fathur.
"Yang ini lima puluh ribu mas!!" Ucap penjual dengan ramah.
Fathur kembali bertanya kepada penjual untuk
throphy yang berada di dekat throphy marmer yang sebelumnya ia tunjuk.
"Yang ini berapa mas?"
"Yang ini tiga puluh lima ribu!!"
Setelah bertanya beberapa throphy. Akhirnya
pilihannya jatuh kepada throphy yang berwarna hijau. Karena dinilai olehnya
harganya terlalu murah untuk sebuah throphy pada umumnya. Dan ia pun membagi
throphy kepada pemenang lomba yang berjumlah 6 orang.
"Ya ini saja mas!!" Ucapnya dengan nada sumringah.
"Yang juara satu warna hijau, yang juara dua warna merah."
Karyawan toko pun menyusun throphy dengan
karyawan lainnya, sedangkan satu karyawan lagi mendisgn label yang
bertuliskan beberapa macam jenis lomba. Karyawan pun menunjukkan konsep label
tersebut kepadanya hanya untuk melayani pembeli yaitu ketua Lpm yang bernama
Fathur terlihat puas dengan hasil disgn yang ditunjukkan kepadanya.
Beberapa konsep pun ditunjukkan dengan intruksi Fathur. Setelah itu, label
tersebut selesai dengan aba-aba Fathur yang memujinya dengan kata "bagus" kepada karyawan tersebut. Akhirnya throphy
tersebut selesai disusun. Kemudian label pun ditempelkan ke throphy tersebut. Sebelumnya proses pemotongan pun
dilalui karyawan dengan dibatu oleh kami. Plastik besar berwarna biru tempat
tuk mewadahi beberapa throphy tersebut, hingga aku yang membawa layaknya
seorang pemulung yang mencari botol. Aku
dan Fathur menuju pasar Gresik tuk membuat banner yang digunakan acara Dies
Maulidy. Ternyata toko percetakan pun tutup, karena hari saat kami berkunjung kesana yaitu hari
minggu. Hari minggu adalah hari seorang karyawan melepas penat setelah seharian
bekerja. Karena dinilai perjuangan kami sia-sia, akhirnya kami kembali ke base
camp yaitu warung Ndomboss. Disana nampak sesosok pria besar dengan
tubuh ideal serta gigi kuning keputihan karena memakan gorengan. Ia
menyambutku. Pria tersebut adalah patner kami yaitu Rozak. Rozak duduk dan
melihat film india yang terpampang di layar smartphone milik Junaidi Sueb.
Sebelum berangkat Junaidi menitipkannya kepada Rozak, disaat kami mengunjungi
warung milik Pak Mahod. Mahod adalah pemilik warung kopi langganan anak pondok
ketika hari libur kuliah menjelang. ketika hari selasa dan jum’at, ruang tamu
Pak Mahod dipenuhi oleh puluhan santri dengan tangan memegang samrtphone dan
diselipkannya rokok diantara jari telunjuk dan jari tengah yang dibiarkan
menyala.
"Darimana kamu kok lama?" Tanya Rozak sembari melihat
film.
"Dari beli
throphy dan banner!!" Jawab Fathur.
"Tapi toko percetakan tutup katanya libur!!"
Setelah dirasa Rozak lupa memberi tahu aku dan
Fathur, sembari dahi karena
menyesali perbuatannya.
"Ayo cepat
mandi langsung berangkat ke PPS SWANLIKE!!" Ucap Fathur dengan nada
membentak.
toilet milik Gibran terletak di sebelah timur dari warung miliknya,
hanya saja tempatnya sangat minim penerangan sehingga di waktu malam membuat
pengunjungnya takut buang air. Bergegaslah Rozak tuk mandi. Sesudah mandi pun
ia menunaikan sholat ashar. Karena dirasa tak baik menunda ibadah menurutnya.
Aku pun bergantian dengan Rozak karena tempatnya sangat minim hingga Aku
menanti Rozak selesai sholat. Tempat sholat pun tak jauh dari warungnya, hanya
berjalan beberapa langkah lalu belok kiri dan disitulah tempat ibadah bagi
pengunjung di warung milik Gibran. Waktu
menunjukkan pukul 18:25 suara adzan terdengar dari berbagai penjuru bahkan
suaranya pun sangat keras seakan-akan seorang muslim sekitar mendapat panggilan
dari sang kuasa tuk segera beribadah. Rozak pun sholat magrib dan disusul Aku
yang menantinya di tempat duduk yang terbuat dari semen berbentuk balok
bersebelahan dengan Fathur. Wiritan beberapa menit lalu Fathur menyuruh kami
berdua tuk segera beranjak ke PPS. Kami pun berbonceng tiga kearah selatan
melewati jembatan yang di bawahnya terdapat tol manyar. Ketika jalan menurun,
Fathur pun sebagai nahkoda berbelok ke kanan hingga pertigaan lalu kiri dan
kiri barulah sampai di tempat yang bernama SWAN LAKE. Disana terdapat
pemandangan pemuda dan pemudi yang sedang asyik bermesraan di dekat waduk pemuda
menilai tempat tersebut sangat romantis buatnya.
Sampailah kami pada tempat yang berlokasi dekat waduk tersebut. Kami pun
berlatih diberlatih disana dibawah terik rembulan yang diselimuti awan.
"Sudah berhenti disini saja!!" Ucap Fathur menarik baju
bagian belakangku.
"Bean jadi
anak, aku jadi, Aku jadi Kakak, kamu Zak
jadi Bapak!" Ucap Fathur dengan jari telunjuk mengarah kepada para aktor.
"Aku kan tadi lihat di Youtube, jadi ceritanya seperti ini" Sembari menyodorkan smartphone kearahku dan Rozak.
"Sudah enggak usah banyak konsep, ayo buat!" Ucapku dengan nada semngat.
Setelah beberapa menit berlatih seorang
Ibu-Ibu entah dari mana asalnya layaknya superman bertanya kepada kami bertiga
yang sedang berlatih karena dikiranya kami berkelahi. Karena suara kami bertiga
sangat keras terdengar.
"Ngapain dek!" Tanya Ibu-Ibu penasaran dengan kami.
"Saya latihan bu!" Jawab Rozak merasa malu karena berperan
sebagai Bapak dengan nada berteriak
seakan menhempas keheningan malam itu.
"Ohh!! Saya kira berkelahi" Respon Ibu-ibu setelah mengetahui kami
berlatih.
Razak pun menyarankan pindah, karena merasa
menggangu alam sekitarnya. Kami bertiga pun pindah dekat tower listrik supaya
suara Razak yang berteriak tak terdengar alam sekitar.
"Bro!! Tadi suaraku kencang ya?" Sesal Rozak.
"Ya!! Kamu kalau ngomong jangan kencang-kencang biar gak terdengar
orang-orang!!" Ucap Fathur tertawa memukul pudak Rozak.
"Ya sekarang pindah biar gak kedengaran warga!!"
"Nah disini aja enak bisa lihat pemandangan cakep" Ucap Fathur licik karena ada seorang yang bercumbu rayu.
"pantesan disini orang ada itu!!" Ucapku memergoki Fathur.
Waktu demi-waktu berlalu akhirnya kami
selesaikan latihan pada malam itu. Ketika jarum jam menunjukkan pukul 23:14
kami pun berpindah tempat. Tempat yang kami tuju ialah warung Cak Ri karena
setelah berlatih Fathur mengajar kami kesana tuk menikmati es dengan campuran
susu dan blewah. Disisi lain Fathur ingin mencari suasana baru, sikap sang
ketua Lpm tersebut sangatlah mudah bosan jikalau tempat yang disajikan tak
menarik. Dengan rasa pede kami bertiga bersemangat dan terbayang acara
Dies Maulidy yang tinggal dua hari. Kami pun pergi kesana berbonceng tiga
melewati jalan pertigaan tugu yang mengarah ke utara, hingga berjalan sampai pertigaan
belok kanan kearah GKA lalu belok kiri memasuki Kawasan Industri Gresik dan
berakhirlah pada tujuan yang kami tuju.
Kami bertiga bersusah payah karena jok yang kami duduki Fathur
selalu merosot, Fathur pun selalu memarih Aku dan Rozak. Badan Fathur serasa
tak mendapat sanggahan dari jok yang kami tumpangi.
"Munduran
brow!! Pengen jatuh nih!!" Ucap Fathur dengan nada kesal.
Kami pun memasuki Kawasan Industri Gresik. Di
waktu itu jalan akses kita tuk sampai ke warung Cak Ri sangat sepi, karena hari
mulai larut. Angin berhembus hingga menusuk tulang kami bertiga, seakan-akan
pada malam tersebut seperti terletak di daerah Alaska yang sangat dingin. Kami
pun menggigil dan mengelu seakan perintah tubuhku yang tak tahan tuk segera
mengobati rasa dingin pada malam itu. Fathur menyuruhku yang berada tepat
dibelakangnya tuk segera menutup kancing jaketnya.
"Bean!! Kancingin jaket saya!!" Ucapannya tertuju padaku yang berdiri di
belakangya.
Aku segera menutup jaketnya karena Fathur yang
mengemudikan sepeda motor tak bisa melakukannya sendiri. Setelah beberapa lama
berjuang menghadapi rintangan, akhirnya sampailah kami di warkop Cak Ri.
Parkirannya pun dipenuhi oleh puluhan mobil serta motor pengunjung, menandakan
warkop tersebut ramai. Kami berjalan mencari lokasi tempat singgah tuk
menyantap kopi yang terkenal sangat enak se-Gresik. Setelah itu Rozak memesan
kopi susu dan es blewah. Sambil menunggu pesanan datang, kami melihat hasil
latihan tadi ketika di PPS.
"Kurang perfect!!" Ucap Fathur mengelu.
"Besok pagi latihan lagi bro!!" Ucapku meyakinkan.
"Zak serius dikit napa kalo latihan, jangan tawa!!"
"Itu Bean tawa jadinya aku ikut tawa!!"
Pelayan pun datang memanggil namaku yang
bergurau karena mengoreksi kesalahan pada latihan tadi.
"Mas Rifky!!" sapa pelayan yang berdiri diantara pintu
warkop tersebut.
Ohh ya!! Sampai lupa perkenalan. Namaku Rifky
Bachtiar tinggal di jakarta teman-temanku selalu memanggilku dengan sapaan
Bean. Entah mengapa aku dipanggil dengan sapaan tersebut, mungkin wajahku mirip
dengan sosok komedian legendaris asal inggris yaitu Mr.Bean. Untuk mengetahui
kisahku lebih lanjut, mari tingkatkan lagi semangat meniliti pembaca tuk sampai
ke kisah selanjutnya.
Pesananku pun hadir dihadapan kami bertiga, ada kopi susu sebanyak
cangkir dan es blewah dua gelas. Aku menikmati kopiku, sedangkan Rozak dan
Fathur melihat ceramah yang tertera di layar smartphone milik Fathur, hingga
mereka berdua pun tertidur. Tinggal aku sendiri yang memandang langit serta
menikmati secangkir kopi. Sebelum melihat cermah, mereka berdua meminum kedua
macam minuman tersebut hingga isi kedua gelas tersebut tersisa setengah. Hanya
aku yang mempunyai satu cangkir gelas yang berisikan kopi susu. Aku pun
berharap keajaiban dating tiba-tiba karena acara tertinggal 2 hari lagi. Jarum
jam menunjukkan pukul 01:05. Fathur terbangun dari tidurnya dan mengajak Aku dan Rozak kembali
ke base camp warung Ndomboss. Melihat situasi tak mendukung,
akhirnya kami pindah pada GKA yang berlokasi sama hanya saja berbeda gang. Setiba
di lokasi GKA, kami masuk ke gang hingga jalan mengantarkan kami pada bagian akhir yang mengarah ke selatan hingga
terhentilah kami di pertigaan. Barulah kami sampai lokasi. Fathur menjadi
pelanggan setia warung kopi Eco Wisata, karena berkali-kali ia mengunjunginya.
Aku dan Rozak memesan teh hangat sedangkan Fathur kopi susu. Kami pun bermain poker di bangku yang
bersebelahan dengan warung Eco Wisata. Berjam-jam kami bermain, kantuk
menguasai tubuh Fathur. Akhirnya permainan pun usai. Aku dan Rozak menunggu
pagi datang dan kembali ke pasar Gresik. Kami berdua mempunyai kesibukan
masing-masing. Seperti, Rozak meminjam samrtphone yang di charge untuk
digunakannya Facebookan. Dan aku membaca koran yang tergeletak diatas meja yang
kami duduki. Setalah membuka Facebook, Rozak
pun melihat film india yang belum tamat ketika ditontonnya di warung milik
Gibran, sedangkan aku sholat isya di mushallah yang tak jauh dari tempat kami.
Hingga waktu menunjukkan pukul 03:45 adzan subuh berkumandang terdengar di
sekitar langit yang asalnya tak jauh dari lokasi. Aku dan Rozak bergantian tuk
sholat subuh. Rozak menyuruhku berangkat lebih dulu, aku pun berangkat menuju
mushallah di dekat lokasi meninggalkan Rozak yang melihat film dan Fathur yang
tertidur pulas di bangku Eco Wisata. Tak lama kemudian, aku datang dengan
rambut basah karena terkena air wudhu. Barulah giliran Rozak yang menunaikan
sholat subuh. Karena heran dengan Rozak yang serius melihat samrtphone,
akhirnya aku menghampirinya.
"Ngapain Zak?" Ucapku heran.
"Ini nih liat film india!!"
Ia pun bertanya kepadaku karena mendapat
keganjalan dari situs yang biasa digunakannya untuk melihat film.
"Bean!! Kamu kalo liat film dimana?"
"Lk 21."
"Gak bisa!!"
"Mana sih!!" Sembari meminta smartphone yang digenggam
Rozak.
Aku memastikan film yang dicari Rozak ada
didalam situs yang kusarankan. Ternyata benar film yang dicari Rozak tidak
tertera dalam situs tersebut. Aku pun mengembalikan smartphone itu kepada Rozak
dan ia pun mencari film india dengan judul lain untuk ditonton. Mentari sudah
terbangun dari tidurnya, mengeluarkan sinar oranye yang bersinar menyinari bumi
GKA. Terbangunlah Fathur dari tidurnya lalu mata kami berdua terasa sangat
berat tuk diajak kompromi. Entah kantuk itu tertular dari Fathur yang terjaga
dari tidurnya yang ingin bergantian. Fathur pun mengajak Rozak tuk lanjut
berlatih, akan tetapi aku pada saat itu tak kuasa menahan kantuk yang menguasai
tubuhku. Akhirnya pun Aku dan Rozak tertidur di bangku yang kami duduki setelah
sekian lama menahan katuk berlebih. Fathur akhirnya membangunkan kami berdua
dan ia mengajak berlatih tuk persiapan di hari esok. Karena kami berdua sulit
di bangunkan, Fathur pun menggoyang-goyangkan pundakku dengan maksud tuk
mengajak kami menemaninya yang hendak ke pasar Gresik dan mencetak banner. Pagi itu kami bertiga mencari sarapan di area GKB, tertujulah kami
pada warung nasi yang terletak di pinggir jalan.
"Bak!! Nasi
tiga!! Ucapku ke penjual nasi.
"Ya!! Nasi
apa?"
Kami bertiga memilih lauk yang ditawarkan di etalase warung. Dengan
berbagai lauk kami melihat-lihat agar cocok dengan selera kami. Setelah melihat
ke kanan dan kiri, akhirnya kami memperoleh nasi dengan lauk yang berbeda.
Setelah melahap nasi, kami membayar dan beranjak mencari lokasi tuk berlatih
teater. Kami pun berhenti di taman yang pada saat itu sangat ramai, seakan kita
menggangu mereka yang beraktifitas. Kami mengurungkan niat berlatih disana dan
mencari-cari di sekitar lokasi. Perjalanan kami pun terhenti pada taman dekat
jalan yang terdapat tukang sapu. Berlatihlah kami disana dengan pemandangan
indah dihiasi cahaya oranye karena pagi itu pukul 07:12.
"Disini aja bro luas trus bisa menguji mental kita!!" Ucap Rozak yang bangga dengan lokasi.
"Yappss!! Sekalian aku live tayangan kita!!" Celoteh Fathur.
"Ini baca teks biar sempurna!!" Ucap Rozak.
Kami pun mulai berlatih teater dengan
sungguh-sungguh karena waktu kurang satu hari. Fathur menyarankan untuk serius
dan disertai mimik wajah yang tepat. Rozak berlatih dengan perfect, sehingga ia melakukan penganiayaan ketika adegan seorang bapak yang memukul
anaknya karena nakal. Rozak pun memperagakan dengan melipat buku menjadi
tongkat. Ia menghantamkannya ke wajahku dan wajah Fathur, sehingga ia seperti
seorang hamba yang tak mempunyai banyak dosa.
"Plak!!"
"Plak!!"
"Zak kalo mukul pelan-pelan napa!!" Celotehku kesal menegurnya.
"Iya Zak sakit banget!!"
"Maaf-maaf keceplosan!!" Ucap Rozak minta maaf.
Capek pun akhirnya mengakhiri tubuh kami,
akhirnya kami pun mengakhiri latihan yang di laksanakan pagi itu. Kami pun
berfoto-foto dan mengupload ke Facebook, maklum Fathur adalah seorang anak hits
yang selalu tampil kece. Ia mengajari kita untuk tampil seperti yang ia
kenakan. Lalu Fathur menguploadnya dan memberi pemanis dengan trick boom like.
Alangkah terkejutnya kami melihat ribuan like diperolehnya dengan mudah. Entah
dari mana ia mendapatkannya, mungkin hasilnya setelah berguru di Google dan ia
pun hanya menutup mulut tak mau kelicikannya terbongkar. Setelah berfoto-foto,
kami pun ke pasar Gresik untuk mengambil pesanan banner yang kami dipesan
Fathur. Banner yang kami pesan belum selesai. Rozak yang merasa bosan karena
kantor percetakan terasa ramai, ia memutuskan untuk pergi potong rambut dan
berpamitan kepada kami berdua. Seorang karyawan menyarankan untuk datang ke
kantor percetakan pada sore hari, karena banner tersebut belum selesai, aku dan
Fathur menanti Rozak yang potong di seberang jalan ramayana yang tak jauh dari
tempat percetakan.
"Daripada nunggu lama, aku keluar dulu ya!!" Ucap Fathur berpamitan kepada Rozak yang sedang di potong rambutnya.
"Iya, tapi jangan lama-lama ya?"
"Ayo ke rumah umikku ngmbil bajumu!" Ajakan Fathur.
Fathur pun bingung ketika ajakan yang ia pancing berujung merugikan
dirinya, lalu aku mengajaknya tuk ke rumah umik Fathur. Neneknya bertempat
tinggal di pelabuhan yang bermayoritas suku Madura. Di daerah pelabuhan setiap rumah
berwirausaha. seperti, kayu, besi tua, barang bekas, dll. Itulah yang kami
temui disepanjang jalan pelabuhan. Rata-rata setiap warga yang berwirausaha
tersebut dalah suku Madura yang beradu nasib di Gresik.
"Ayo
Thur!"
"Nanti!"
Dengan nada membentak.
Fathur bertanya keberadaan umiknya melalui ponakannya yang bernama
Tasya lewat Whatsapp. Fathur tak ingin kesana dan ia pun menolak ajakanku,
karena ia mempunyai problem terselubung yang membuatnya enggan kesana. Setelah
berpikir beribu-ribu kali karena Fathur bingung antara kesana atau tidak, ia
pun menerima desakanku setelah berpikir berkali-kali. Smartphone miliknya
bergetar pertanda Whatsappnya dibalas oleh Tasya bahwa umik sedang masak untuk
hidangan acara matenan disana, tanpa pusing pun ia langsung Capcus
kesana. Sepeda motor pun di kemudikan Fathur dengan tujuan pelabuhan. Sesampai
ditujuan, rumah tersebut sedang sibuk dengan hajat walimatul ursy, akhirnya
kami berjalan melewati gang alternatif yang menuju halaman belakang rumah milik
nenek Fathur. Aku pun disuruh Fathur mengucapkan salam tanda seorang yang
hendak bertamu.
"Assalamualaiku!!"
Ucapku
Nampak dari dalam terlihat seorang perempuan berbaju daster putih
yang menyambutku.
"Walaikum
salam!!" Ucap perempuan itu.
"Umiknya
ada?" Tanyaku.
Ia pun bingung dengan kedatang
kami yang mecari ibu mertua dari perempuan tersebut. Tanpa piker panjang, ia
pun berpamitan dan menutup pintu.
"Umik ke
Madura, aku mau keluar!!" Ucap perempuan itu sembari menutup pintu.
Alangkah terkejutnya kami setelah melihat perempuan kelakuan perempuan
tersebut. Setelah mengetahui kejadian seperti itu, fathur memarahiku. Perempuan
tersebut adalah menantu dari umikya Fathur, karena ia menikah dengan anak dari
umiknya Fathur. Sifat tercela dari perempuan tersebut sudah berulang kali
dilakukannya hingga Fathur mengadu ke umiknya dan perempuan tersebut dimarahi
oleh umiknya Fathur. Fathur mengelu mempunyai tante seperti itu, bahkan ia
bercerita kepadaku bahwa perempuan tersebut tidaklah cocok untuk kakaknya dan
Fathur berkata "kaya enggak ada perempuan laen aja!!" sampai
detik itu Fathur enggan bermain ke rumah neneknya. Hasil pun sia-sia kudapat,
dengan sesal di hati kami kembali menuju tempat Rozak memotong rambutnya. Ia
menunggu kedatangan kami di tempat duduk antrean pengunjung. Nampak sosok Rozak
dengan penampilan barunya dengan memotong tipis rambut di bagian pelipis. Ia
bertanya atas penampilannya.
"Kelihatan
ngepunk gak?" Tanya Rozak kepadaku dengan memperlihatkan bagian
rambutnyayang baru potong.
"Engga.
Biasa!!" Ucapku.
Karena peraturan pondok melarang santrinya berpenampilan mengikuti
gaya punk yang dipandang warga seperti anak nakal pembuat onar di jalan. Rozak
pun meminjam topi yang di kenakanku untuk menutupi rambut barunya.
"Bean minjem
topi!!" Pinta Rozak.
"Kenapa di
tutup segala. Percuma potong!!" Ejekan fathur.
Kami pun mengambil Banner pesanan Fathur yang
baru terselesaikan pukul 04:48, kami masuk ke area pasar menuju diantara
ruko-ruko yang berjejeran di sepanjang jalan. Sampailah kami pada toko
percetakan dan mengambil banner tersebut. Aku mencari di beberapa tumpukan
banner lain. Setelah membongkar beberapa banner, akhirnya
banner kami pun ditemukan dengan ciri khas bertuliskan logo Lpm yang terlihat
tembus di bagian belakang banner. Kami pun menuju GKB tuk beristirahat dan
mencari cafe di area bundaran GKB. Kami memesan minuman dan mie instan di kasir
yang letaknya di pintu masuk cafe.
Menuju lantai atas Cafe karena diatas terlihat sangat sepi dari pemandanggan
dari pengunjung. Setelah pesanan kami datang live Instagram karena ingin tampil
beda, Dia adalah seorang yang sangat
hits. Oleh karena itu dia selalu tampil kece di dunia maya. Kekasihnya pun PPL
di sekitar GKB letaknya tak jauh dari lokasi cafe kami, ia pun berniat ingin
menjemput sang kekasih yang letaknya di sebuah pondok. Fathur menjemputnya pun
dengan sepeda motor, sementara kami menunggu kedatangan Fathur Mengisi waktu
luang dengan beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Jam pada waktu itu
pukul 06.00 sore pertanda adzan maghrib berkumandang. Kami pun sadar dengan
status santri yang berkewajiban melaksanakan ibadah tersebut, kami pun
bergantian dengan rozak karena tempat ibadahnya pun sangat minim dan hanya
cukup untuk 1 orang. Dari kejauhan Ku kenal seorang yang sedang berboncengan,
dengan benar diletakkan di penyangga kaki sepeda motor matic yang
dikemudikannya. Ia pun berhenti di kasir dan memesan sebuah minuman untuk
dirinya dan kekasihnya. Setelah itu dia pun menuju tempat kami berdua.
"Lama ya? " Ucap fatur.
"Sudah salat? " Tanya kekasih Fathur kepadaku.
"Dimana? " Tanya kekasih Fathur kepadaku.
"Itu loh! " dengan menunjuk arah letak kamar mandi dari atas lantai 2 yang tak
terlihat.
Kekasihnya Fathur mengikuti arah jari yang ku
acungkan dengan telunjuk. Seraya bergurau dengannya disertai dengan senyumku.
"Ya gak kelihatan Bak mushallahnya!" Jawabku.
"Ini kaya saya pernah dengar suaranya!" Ucap kekasih Fathur dengan menunjuk kearahku
sembari berfikir namaku yang belum diketahui.
"Gue Bean!"
"Oh iya aku kan pernah dengar!" Ucapnya sembari senyum sumrungah.
"Kalau yang itu namanya siapa?" Tanya kekasih Fathur yang mengacungkan jari
telunjuk kepada Rozak.
"Yang ini
David dan yang ini Marcell!" Jawab Fathur bergurau yang memberi tahu nama
Aku dan Rozak.
Fathur senyum sumringah dengan menoleh kearah kekasihnya dan kekasihnya pun
mencubitnya dibagian pinggang. Kekasih Fathur pun bertanya sembari menunjuk
Rozak yang penasaran dengan beribu-ribu pertanyaan.
"Ya kamu siapa!" Ucap Rozak dengan menunjuk diri
dan memastikan bahwa kekasih Fathur benar-benar bertanya kepadanya.
"Aku
Rozak!"
Suara ponsel keasih Fathur berbunyi dan sang
kekasih menolaknya, suara ponselnya terdengar berulang-ulang, akhirnya kekasih
Fathur mengangkatnya.
"Dimana kamu?" suara perempuan yang bertanya keberadaanya di
ponsel kekasih Fathur.
"Di cafe, soalnya lagi ada urusan!" Jawab kekasih Fathur mengelak tak mau
terungkap keberadaannya.
"Cepat pulang soalnya gerbang pengen di tutup!"
"Oh iya-iya aku pulang!" Ucap kekasih Fathur takut dengan kabar
tersebut.
Mendengar ultimatum tersebut, akhirnya
kekasihnya minta pulang karena takut gerbang kediamannya di tutup. Ia pun
memohon kepada Fathur dengan manja supaya lekas diantarkannya. Aku dan Rozak ketika melihat sandiwara tersebut terbawa dan ingin dimanja oleh
seorang perempuan. Sama persis
seperti tayangan sinetron di televisi yang bergenre percintaan. Setelah sandiwara kedua insan itu usai,
akhirnya Fathur bergegas mengantarkannya kembali ke kediamannya. Aku berdua
menunggu Fathur yang mengantarkan kekasihnya. Setelah sekian lama menunggu,
dari kejauhan terlihat sosok pendek dengan gigi berbehel menuju ke tempat kami.
Ia pun mengajak kami untuk segera mempersiapkan acara Dies Maulidy Lpm yang
terletak di lantai 2. Tetapi setelah kami berada di warung Mahod, situasi di
daerah jalan penghubung Mahod dan pondok belum membaik setelah kasus santri
yang terciduk guru. Tradisi seorang santri yang beradaptasi dengan kehidupan
pengurus adalah ketika ia keluyuran di malam hari tak lupa singgah di Mahod
untuk memantau situasi. Letak geografis Mahod
dengan pondok adalah berjarak 5m dan juga merupakan akses jalan masuk ke
pondok. Melihat situasi di mahod pada malam itu sangat ramai oleh pengurus yang
panik. Mereka pun berlarian diantara gang rumah disebelah selatan rumah mahod.
Karena bingung, kami pun bertanya kepada salah seorang pengurus yang berlari
masuk ke dalam rumah mahod.
"Di pondok ada siapa?" Ucap Fathur kepada salah satu pengurus yang
berlari ke dalam.
"Ada yang jaga di depan kantor keamanan!!" Jawab santri tersebut.
Karena dirasa suasana rawan, kami pun kembali
ke base camp yaitu warung Ndomboss untuk mengantisipasi dari guru
yang berpatroli. Kami berjalan ke luar rumah mahod menuju jalan sembari memastikan
situasi aman. Pengurus pun berhamburan keluar entah kemana sedangkan kami berlari ke utara dengan
menuntun sepeda motor sembari menstarter. Aku pun menghampiri Fathur yang
berlari lunggang-langging. Kami pun sadr bahwa Rozak yang tertinggal dibelakang
dengan berjalan santai menghampiri Aku dan Fathur.
"Ayo Zak!" Ucapku dengan menoleh ke Rozak yang berlari
dibelakangku.
"Cepet Zak!" Ucapku ambisi.
Akhirnya kami bertiga menginggalkan warkop
Mahod yang situasinya tak aman dan tertujulah kami ke utara menuju perbatasan
pongangan jalan tembusan Ganden hingga sampai ke Ndomboss. Berputar
balik mencari jalan alternatif tuk menghindari jalan pondok yang dinilai tak
aman. Terlihat teman-temanku yang sedang bermain gadged di atas tempat duduk
belakang warung Ndomboss. Aku pun bercerita tentang tragedi tadi,
ternyata di lokasiku terdapat seorang korban kepanikan tragedi tersebut.
"Bagus ketangkep bleh!" Ucapku kepada mereka yang duduk di bangku.
"Ya kan!! Waktu ngaji, kebebetulan Pak Ruslan memantau untuk berjalannya
kegiatan tersebut.
"Tadi Bagus
masuk bersamaan dengan Pak Ruslan yang berjaga di ruang satpam untuk memantau
kegiataan ngaji, Pak Ruslan bawa Bagus ke rumahnya untuk diintrogasi. Pak
Ruslan balik aku keluar" Ucap Husen yang duduk di bangku dengan bermain
game.
"Tadi banyak
banget pengurus didepan mahod merusak situasi aja!!" Celoteh Fathur.
"Ya
bleh!!" Ucapku menyahuti.
"Pengen masuk
gak jadi ada bertita itu!" Keluh Fathur.
Fathur pun bingung
setelah terbayang acara Dies Maulidy yang dimulai hari selasa esok dan ia belum
menata panggung tuk acara besok.
"Gimana bro,
besok acara udah mulai!" Keluh Fathur.
"Kan ada
Rahmad yang Fokus didalem nata perlengkapan" Ucapku.
Waktu berjalan cepat dan tak terasa pukul 12: 40 telah mensunyikan
suasana malam itu. Kantuk pun menguasai aku, tidurlah aku di bangku yang
terbuat dari semen dan letaknya pun di
timur warung Gibran. Rozak tidur di tempat sholat dekat dengan lokasiku bersama
Fathur beralaskan banner yang dipesan kemarin dan membukanya sedikit supaya
banner tidak kotor. Rahmad pun datang puku 01:20 tuk mengambil banner dan
memasangnya didalam pondok. Setelah itu Rahmad menggoyang-goyangkan badanku
denagan maksud membangunkan tuk mengemasi hidangan acara besok, akan tetapi aku
yang terlena dengan bunga-bunga tidur tak kuasa bangun dan menghiraukan Rahmad
yang mengajakku. Jam 02:03 Fathur mengajakku ke warung Bolang yang letaknya
sebelah utara dari warung Gibran. Kami pun mampir ke tempat pembuatan roti yang
berjarak 100m tuk mencari Rahmad dan memastikan bahwa perlengkapan acara telah
terselesaikan. Di balik pintu yang terbuat dari kaca terlihat teman-teman kami
telelap setelah menjemput pemateri dari tuban. Aku pun mengetuk pintu kaca
tersebut tuk membangunkan orang yang didalam. Dari balik pintu terlihat seorang
yang terbangun dengan mata memerah berjalan kearahku tuk membuka pintu.
"Tok-tok!"
"Cak ada
Rahmad?" Tanyaku.
Orang tersebut pun mempersilahkan aku masuk tuk memastikan. Aku
berjalan di setiap seseorang yang tertidur dan memandang wajahnya satu persatu
layaknya seorang buser yang mencari buronan. Ternyata Rahmad tidak didalam,
kami pun berpamitan dengan orang tersebut.
Motor pun melaju kearah pongangan yaitu warung Bolang. Sesampai disana
aku pun kebelakang. Ternyata disana terdapat teman sekamarku sedang bermain
poker serta pengurus yang bermain playstation. Di kamar pun mereka
bermain tradisi permainan tersebut bahkan suatu hari ada seorang guru yang mengondisikan kamarku,
karena posisi permainan setiap seseorang yang bermain membentuk lingkaran.
Sedangkan Toni membelakangi pintu kamar dan tak tahu bahwa seorang guru
memergokinya bermain kartu, sontak Toni terkejut karena di colek oleh guru
tersebut dan menyita kartunya. Karena bosan dengan keadaan, Fathur pun mengajak
bermain
Komentar
Posting Komentar