Resensi Bumi Manusia
Judul : Bumi Manusia
Penulis : Pramodya Anata Toer
Halaman : 535
Penerbit : Lentera Dipantara
Cetakan : 10 September 2005
ISBN : 979-97312-3-2
Buku
pramoedya ananta tour salah satunya bumi manusia menggunakan bahasa melayu
sehingga pembaca harus membacanya hingga benar-benar paham apa yang disajikan
beliau. Ketika saya membaca buku ini seakan terbawa suasana pada topik buku tersebut. Itulah pengolahan kata beliau
dalam buku bumi manusia. Beliau mahir dalam merangkai kata. Pada buku tersebut
kita jumpai berbagai problematika dari seorang nyai Ontosoroh yang
dijual oleh orang tuanya hanya karena pangkat dan jabatan semata, sehingga dari
seorang gundik menjadi seorang pengusaha berkat keuletan beliau saat bekerja memanfaatkan keadaan. Dan
problem dari minke yang dipanggil oleh seorang polisi yang membawanya ke kota b
yaitu kantor bupati, sehingga dari dalam benak inilah berkata “Aku seorang
darah biru dan berpendidikan HBS tidak mungkin aku tunduk dengan seorang yang
baru kenal” Sehingga beliau bersumpah tidak akan mengulangi kejadian tersebut
kepada anak cucunya. Inilah tradisi yang bertentangan dengan beliau. Dari
seorang minke siswa HBS terampil menerjemahkan percakapan dalam bahasa Belanda
sehingga ribuan pasang mata memujinya saat acara pelantikan Robert herman
millema menjadi bupati. Betapa pentingnya mempelajari bahasa asing seakan-akan
kita mudah berbaur dengan orang asing. Tak hanya itu kisah positif dari Herman
Millema yang mengajari nyai Ontosoroh membaca sehingga dari arahannya beliau
pun mengerti betapa pentingnya ilmu. Robert Millema dan Annelies pun pada umur
yang belia harus mengurus pengesahan di Gereja, karena seorang yang berdarah
eropa tak boleh berpasangan dengan seorang pribumi sehingga pengesahan pun
berjalan amat sulit. Di pertengahan buku pun terdapat pertikaian antara anak
tiri dari herman millema karena berselingkuh oleh nyai Ontosoroh, dan timbulah
perpisahan antara keduanya. Sehingga nyai Ontosoroh mandiri dalam menjalankan
tugas perdagangan dan menyisihkan uang yang digunakannya ketika kelak ia diusir
oleh suaminya Herman Millema.
Dari bermacam problematika tersebut dapat
kita simpulkan bahwa seorang Minke berpegang teguh pada adat jawanya sehingga
ia tak mau berpenampilan ala eropa dan memiliki sifat yang rendah hati dan
menghormati sesamanya. Sedangkan nyai Ontosoroh mempunyai sifat tegas hingga ia
menjaga betul anak perempuannya yang bernama Annelies. Nyai Ontosoroh tak mau
Annelis bernasib sama sepertinya. Serta ketekunan nyai Ontosoroh dalam mengatur
perkembangan perusahaan miliknya. Sedangkan kakaknya Robert Millema miliki
sifat pendendam, karena ibunya yaitu nyai Ontosoroh telah memaki-maki Herman
Millema sehingga sifat benci timbul pada ibunya. Dan Robert Millema pun
membenci adat pribumi. Dalam buku bumi manusia Robert Millema sangat menyayangi
sosok dari ayahnya yang juga memiliki adat eropa. Annelies memiliki sifat manja
dan penyayang. Sifat manja tersebut tergambar dari sosok Annelies dalam buku
tersebut bahwa ia selalu membuntuti ibunya dan masih belum bisa
hidup madiri. Sifat penyayang dari seorang Annelies ialah ketika ia tidur
bersama ibunya ia ingin bercerita tentang minke. Annelies pun ingin hubungannya
direstui oleh ibunya. Dan tak henti hentinya ibunya bercerita tentang
kedzoliman ayahnya bahwa ia telah dijual. Mengingat pembicaraan tersebut tak
henti-henti, akhirnya Annelies
menyembunyikan rasa indah itu pada hati yang teramat dalam hingga kelak situasi
yang menjawab. Kisahnya pun bercampur aduk, antara senang, susah, gelisah
menjadi satu dalam buku karangan Pramodya anatoer. Keajaiban terjadi saat buku
ini saya baca. Seakan kita merasakan secara langsung kisah tersebut.
Komentar
Posting Komentar